Tersasar Di Jalan Yang Benar
Oleh : Sulaikah Kurniawati (Guru SDIT Al Uswah Surabaya)
Tak banyak orang yang bercita-cita menjadi guru. Termasuk aku ketika masih kecil. Aku tak pernah berkeinginan menajdi guru. Cita-citaku dulu adalah menjadi sastrawan, ilmuwan dan psikolog. Kemaruk banget yak. Ya karena aku suka dengan cara guru SD-ku mengajar bahasa Indonesia dan IPA. Ingin menjadi psikolog karena teman-teman sering curhat ke aku. Ya sok-sok-an kasi solusi gitu.
Sampai akhirnya, di perjalanan kehidupanku, ketika dewasa aku memilih kuliah jurusan Kimia Universitas Airlangga. Lagi-lagi karena aku suka cara guruku mengajar Kimia. Sebagaimana lulusan Kimia yang lain, logikanya aku harus bekerja di sebuah laboratorium, pabrik ataupun dosen. Sama seperti aku ketika PKL di sebuah pabrik kaca 2005 silam. Namun aku memilih banting setir menjadi guru karena ku pikir menjadi guru itu tidak sulit dan tidak harus full sehari seperti di pabrik. Alasan yang konyol bukan?
Nyatanya, semua berlaku sebaliknya. Allah ingin meluruskan pemahamanku tentang guru. Takdir mengantarku menjadi guru di sebuah fullday school. Alias full seharian mengajar di sekolah. Saat itu, anak pertamaku berusia 3 bulan. Baby Azzam, aku titipkan pengasuhannya di sebuah day care milik sekolah. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Feeling guilty setiap hari. Setiap hari aku berdoa, semoga keberkahan menjadi guru tercurah ke anakku. Sampai akhirnya si Azzam besar dan berlanjut dengan adiknya yang di day care.
Bagi aku, dengan menjadi guru, aku memiliki kesempatan dan andil besar dalam membangun bangsa ini. Aku sedang menyiapkan generasi pengganti yang lebih baik melalui kelas yang aku didik. Mungkin hasilnya tidak sekarang, namun nanti. Setidaknya sepuluh sampai dua puluh tahun lagi. Ya sabar saja.
Yang paling penting, keberadaanku di sekolah ini, adalah bagian dari dakwah di bidang pendidikan. Kami dipahamkan bahwa setiap kami adalah da’i yang sedang berjuang sekecil apapun amanah kita. Walau sekadar mengajarkan cara salim yang benar.
Oh ya, ternyata menjadi guru itu tidak semudah mengajarkan sesuatu materi pelajaran. Bagaimana menurunkan tingkat abstrak materi, bagaimana mendidik siswa, mengajarkan karakter baik adalah hal-hal yang cukup rumit. Jika sebelumnya, aku berurusan dengan benda materi macam asam sulfat, kalium permanganat, yang semuanya mudah diatur dan dikendalikan. Namun kali ini aku berhadapan dengan manusia dengan segala dinamikanya.
Baiklah.
Takdir Allah memang unik. Tersasarnya aku menjadi guru berbuah manis. Aku menjadi nyaman bekerja menjadi guru. Walaupun bertentangan dengan apa yang aku pahami dulu. Tersasar di jalan yang benar, mungkin itu lebih tepat.
Tiga cita-citaku dulu, sekarang menjadi kenyataan. Jadi ilmuwan karena aku bisa mengajar IPA dan IPS. Ya sastrawan karena sekarang aku bisa menulis sastra, bahkan menjadi pembimbing proyek novel siswa. Ya psikolog karena aku juga menangani konseling siswa. Semua cita-cita terangkum dalam satu profesi. Guru.
Sampai detik ini, kurang lebih empat belas tahun aku menjadi guru di SDIT Al Uswah Surabaya. Sebuah bilangan tahun yang tak sedikit. Mengapa bisa sebetah itu? Tentu saja karena atmosfer dakwah yang kental yang seringkali memberikan energi terbarukan tatkala sedang lemah.
Bukan berarti selama empat belas tahun itu semua baik-baik saja. Tentu saja ada bahkan banyak kondisi diri yang tidak sedang baik-baik saja. Turbulensi kerap terjadi. Entah itu diriku dengan keluarga, diriku dengan sesama rekan kerja bahkan konflik internal. Bahkan sekarang, saat menulis ini. Jadi ingat kata sese-motivator, even you love your job, you will find bad days. Semua adalah bagian dari dinamika kehidupan yang berwarna. Udah, nikmati saja.
Lalu, apakah akan tetap bertahan pada empat belas tahun berikutnya? Entahlah. Semua masih gelap. Nothing to lose saja, biar Allah yang mengatur. (Neea Sweet)
Surabaya 27 Maret 2022


